Salah satu yang menjadi perhatian pengunjung di Kawasan Kawah Ijen adalah adanya Penambang Belerang Tradisional. Mereka dengan berani mendekati danau untuk menggali belerang dengan peralatan sederhana lalu dipikul dengan keranjang. Para penambang belerang ini mengambil belerang dari dasar kawah. Di sini asap cukup tebal, namun dengan peralatan penutup hidung sekadarnya seperti sarung, mereka tetap mencari lelehan belerang. Lelehan belerang di dapat dari pipa yang menuju sumber gas vulkanik yang mengandung sulfur. Gas ini dialirkan melalui pipa lalu keluar dalam bentuk lelehan belerang berwarna merah, setelah membeku belerang berwarna kuning.
 |
| Penambangan Belerang Tradisional Kawah Ijen (sumber :ulinulin.com) | |
Setelah belerang dipotong, para penambang akan mengangkutnya dengan cara dipukul melalui jalan setapak. Beban yang dipikul cukup berat sekitar 80 hingga 100 kg. Para penambang sudah terbiasa memikul beban yang berat ini sambil menyusuri jalan setapak di tebing kaldera yang begitu curam menuruni gunung sejauh 3 kilometer.
 |
| Sumber : jejakpiknik.com |
|
 |
| Sumber : jejakpiknik.com |
|
Untuk menambah sumber penghasilannya, sebagian penambang tersebut memanfaatkan pengetahuan dan pengalamannya mengenal jalur pendakian Kawah Ijen dengan menyediakan jasa sebagai pemandu lokal bagi pengunjung yang membutuhkan. Jika saja rejeki seperti ini selalu ada setiap hari tentu dengan senang hati mereka akan menanggalkan pekerjaan utama sebagai penambang belerang.
 |
| Hasil kerajinan dari Belerang (sumber : travel.detik.com) |
Selain itu para penambang juga memanfaatkan sedikit kreativitas mereka dengan membuat cendera mata dari belerang yang dicetak dalam aneka bentuk yang unik, seperti kura - kura, kepiting, boneka hello kitty dan sebagainya. Banyak pengunjung yang membeli karena tersentuh untuk sedikit membantu menambah penghasilan mereka. Padahal itulah cendera tangan khas Kawah Ijen.
3 Komentar
Keren������
BalasHapusKeren������
BalasHapusGood to knows
BalasHapus